• Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

    Minggu, 09 Oktober 2016

    BEM INI DALWA

    Kriteria Rasional Pemimpin Ideal

              Untuk sampai di garis kepemimpinan, seseorang harus memenuhi syarat dan kriteria tertentu

    albashiroh.net Saat kita menengok kembali realita zaman ini, kepemimpinan seakan menjadi bahan rebutan bagi banyak kalangan. Dengan duduk di tampuk kepemimpinan, seakan semua bisa diraih. Memang, menjadi pejabat tinggi dalam lingkup kekuasaan, biasanya tidak lepas dari suatu ambisi. Ini godaan berat bagi mereka di sana. Tidak sedikit dari mereka yang berlomba-lomba mendapatkannya hanya sekadar untuk merasakan singgasana kedudukan. Mendapat beragam keinginan, dihormati banyak kalangan dan ditaati tiap kali mengangkat tangan. Lantas, apakah hal ini memang sebuah wujud dari hak-hak yang dapat dimiliki seorang pemimpin dalam menguasai jabatannya?
    Hal-hal yang telah disebutkan di atas adalah gambaran dari bermacam kelebihan yang tersedia bagi para penguasa kedudukan. Maka tidaklah heran jika menjadi kepala daerah, gubernur, walikota, bupati, anggota dewan maupun direktur merupakan impian dan obsesi kebanyakan orang. Dari politikus, birokrat, saudagar, tokoh masyarakat hingga para artis pun tak segan-segan untuk ikut antri mendaftarkan diri demi menyuarakan nama di pentas kepemimpinan.
    Sayangnya, masih ada di antara mereka yang tidak terlebih dahulu bercermin pada diri sendiri, layakkah mereka mendapatkan posisi yang mereka tuju? Dengan sembrono mereka memasuki ruangan kepemimpinan tanpa memikirkan, siapa mereka? Mampukah mereka menempati ruangan tersebut dan berkecimpung di dalamnya?
    Parahnya, kebanyakan dari mereka benar-benar tidak mengerti hakikat kepemimpinan.  Bagaimana itu konsep kepemimpinan, syarat-syaratnya, dan kewajibannya. Bahkan banyak dari mereka yang tidak peduli dengan tugas yang akan mereka emban. Tidak menelaah kriteria-kriteria yang mestinya sudah mereka lunasi untuk sampai di terminal kepemimpinan.
    Padahal, kepemimpinan bukanlah sekadar kepemilikan jabatan semata. Bukan pula bangku kosong yang perlu diisi seenaknya, menerima siapapun untuk mendudukinya. Kepemimpinan, baik formal maupun informal, hakikatnya sudah diatur dengan jelas oleh syariat Islam. Berbilang ayat dan hadits telah Allah dan Rasulullah jelaskan untuk menyempurnakan jalan kehidupan umat manusia. Bukan hanya untuk umat Islam, melainkan seluruh peradaban manusia yang muncul di atas muka bumi.
    Kriteria Rasional
    Untuk sampai di garis kepemimpinan, seseorang harus memenuhi syarat dan kriteria tertentu. Kepemimpinan yang notabenenya merupakan perkara wajib untuk ditegakkan, tidak semudah itu dapat dijabat oleh siapa saja. Bahkan Sayyiduna Abu Bakar, awalnya enggan untuk mengemban amanat memimpin umat yang baru saja kehilangan sosok Rasulullah. Lalu, bagaimana hal tersebut diperebutkan oleh orang-orang yang baru saja pandai mengenakan dasi?
    Salah satu syarat kepemimpinan yang sangat rasional adalah iman dan takwa kepada Allah. Ketika seorang hamba telah bertakwa kepada Allah, maka hal itu menjadi tolak ukur bagi hamba tersebut dalam bertindak atas kepemimpinannya. Karena ketakwaan adalah sebuah gambaran jelas bagaimana seorang hamba mengemban amanah. Dalam terminologinya, takwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Maka, dapatkah kita mempercayakan urusan kepemimpinan yang tidak remeh ini kepada orang yang dalam hal bertakwa saja tidak paham?
    Haruskah kita mengecek kartu identitas masing-masing untuk mengingat bahwa negara yang kita huni adalah Indonesia? Negara ini dibangun di atas asas ketuhanan yang Maha Esa, dihuni oleh ribuan juta umat muslim dan mendapat gelar sebagai negara dengan penganut agama Islam terbanyak. Lantas, masih terlalu sulitkah bagi kita untuk mencari sosok pemimpin dari kaum muslim?

    Kamis, 12 November 2015

    BEM INI DALWA

    Banyak Jalan Menuju (Meraih Asa dan Cita Sekolah) Jepang

    ‘’Sebuah catatan kecil untuk berbagi’’ Oleh TUN AHMAD GAZALI, SH.,M.Eng. *) tun
    Tak terasa sebulan sudah aku benar-benar berada dan akhirnya bisa melanjutkan sekolah sebagai mahasiswa Doktoral (S3) di sini. Laksana sebuah mimpi yang selalu ditertawakan orang bahkan diriku sendiri, saat aku ungkapkan asa dan citaku ini, untuk kembali melanjutkan studi di luar negeri yang gratisan. Sebelum meneruskan membaca coretanku yang jauh dari sempurna ini, perkenankan aku memperkenalkan diri. Nama lengkapku Tun Ahmad Gazali, aku lulus S1 tahun 2001 dari Fakultas Hukum Universitas Wijaya Putra Surabaya dan pernah lanjut kuliah di Ecomaterial Science and Engineering, Graduate School of Science and Engineering – Saga University Japan dengan biaya penuh dari Profesorku saat itu (Prof. Inoue). Aku berharap bisa berbagi dengan teman-teman yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan keluar negeri, khususnya Jepang. Banyak alasan dan sebab mengapa niatku melanjutkan kuliah S3 ke luar negeri terus menggebu dan menggelora sepulang selesai S2 di tahun 2006 lalu. Alasan utamaku ingin kuliah di luar negeri adalah sederhana, selain untuk menimba ilmu dan lebih memperluas wawasan, aku ingin merasakan hidup di dunia yang sama sekali berbeda dengan negara di mana aku dibesarkan dan meningkatkan kualitas hidup dan pola pikirku dengan kualitas dunia.
    Kenangan disaat waktu luang Kuliah S2, menghibur anak istri keliling kota Saga Cerita ringan ini bermula dari Oktober 2006, saat aku baru lulus S2 dari Saga University Japan, dan kembali berkutat dengan kesibukanku sehari-hari sebagai PNS di Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang telah aku jalani hampir 26 tahun 6 bulan sampai Oktober 2015 ini. Sebagai PNS dan pribadi yang selalu ingin membesarkan potensi diri, melanjutkan pendidikan informal khususnya pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi selalu menjadi asa dan impian terbesarku hingga kelak bisa menjadi panutan anak-anakku, masyarakat secara umum dan kebanggaan keluarga khususnya. Namun, bak ungkapan pungguk merindukan bulan, dari segi kondisi keuangan, aku menjadi sempat tidak begitu yakin kalau niatku akan kesampaian, tetapi aku terus dan tetap optimis. Bisa,bisa,bisa. Sambil menunggu kesempatan ada Profesor yang tertarik dengan research study plan ku, aku mengajar dibeberapa Universitas di Surabaya dan Bangil-Pasuruan, disela waktu luangku di Sabtu dan Minggu. Kegiatan baru inipun mulai aku tekuni, mengabdikan segenap pikiran, kemampuan dan pengalamanku untuk berbagi ilmu dan spirit global dengan para mahasiswaku, kalangan civitas akademika dan masyarakat sekitar. Ternyata hal ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagiku. Ya, setidaknya apa yang telah ku pelajari di Jepang selama 2 tahun masa studi Masterku di Ecomaterial Science and Engineering, Graduate School of Science and Engineering – Saga University Japan, dan 10 bulan short course di Pemerintah Provinsi Saga di Jepang, bisa kuamalkan dan kubagikan. Dipertengahan tahun 2014, saat sudah memasuki tahun kedelapan aku mencari peluang sekolah lanjut sekembali dari selesai S2, dalam kurun waktu itu, tiap hari aku bersurfing ria menjelajah dunia maya internet. Aku mengumpulkan berbagai informasi tentang sekolah lanjut S3 yang gratis diluarnegeri, mencari sponsorship dan Professor dari seluruh dunia yang berkenan dengan research study plan ku. Namun, aku harus sering gigit jari karena kesemuanya memberikan jawaban bahwa aplikasiku ditolak. Tidak menyerah. Aku amat yakin dengan kalimat ‘’ jika kita berusaha, Tuhan akan memberi”. Harapan untuk lanjut kuliahku diluar negeri belum mati. Guna lebih membuat lancar, mudah dan ringan atas niat dan upayaku ini, aku segera menemui Ibuku dan meminta perkenan doa restu Beliau. Alhamdulillah beliau berkenan dan mendukung niatku ini. Terima kasih, Ibu. Aku disini guna mewujudkan mimpi, asa, harapan dan doa Ibu dan Bapak. Tanda-tanda keberuntunganku tiba, disuatu pagi lepas subuh di hari Minggu pertengahan September 2014, saya menerima 3 email dengan respons positif dari 3 orang Professor sekaligus. Mereka adalah Prof. Kasimoglu dari Turki, Prof. Edward dari Jerman dan Prof. Aziz dari Jepang. Ketiganya merespon baik dan mengajakku berdiskusi lanjut mengenai mimpi dan alasanku menjadi Doctoral Student mereka. Akupun tidak membuang waktu lama, begitu setiap ada email-email mereka, saat itu juga aku respons dan aku jawab langsung semua pertanyaan mereka. Tapi, dua dari mereka mulai terlihat mengurangi perhatian lanjut saat pembicaraan kami mulai terkait bagaimana keuangan dan biaya hidupku nantinya disana. Di emailku, selalu kusampaikan bahwa aku pengen sekolah dan mohon bantuan mereka sebagai mahasiswa yang tidak punya biaya. Hanya Professor Aziz sensei yang terus intens dan terus mengajak komunikasi termasuk menanyakan apa kiat dan upayaku nanti bila sebagai mahasiswa Doktoralnya dengan status ‘’ self funded student ’’. Dengan percaya diri dan yakin, aku langsung menjawab bahwa bila beliau benar-benar berkenan menerimaku, aku akan belajar giat, serius, akan mengerjakan semua arahan beliau, serta tidak keberatan mengerjakan pekerjaan apapun asal diterima sebagai mahasiswa S3 beliau. Allahu Akbar….ternyata beliau menjawab singkat namun mantab dalam sebuah emailnya tertanggal 18 April 2015 ‘’ Dear Mr. Tun, Thank you for your mail. Okay I understand the situation. As I mentioned before, please be sure that I am totally agreed to take you as a PhD student. Regarding the funds we will try together after you will join in my lab. With regards ’’…..wow….wow….wow…wow… Aku langsung menjawab siap dan yakin bila kesempatan ini aku ambil dan jalani, aku akan dapat lebih banyak pengalaman belajar di negeri orang sebagai orang asing yang otomatis akan membuka pengetahuanku terhadap ilmu dan hidup. Sedikit banyak tiga tahun masa belajarku, akan membentuk dan meningkatkan kualitas serta karakter pribadiku. Ditambah lagi, meskipun program studi S3 yang akan aku tekuni dalam 3 tahun kedepan ini tidak sesuai dengan jurusanku saat waktu masih S1 dulu (aku lulusan 2001, Fakultas Hukum Universitas Wijaya Putra Surabaya), Namun itu tak membuatku menggurungkan niat mengejar cita-cita dapat bersekolah lebih tinggi. “Aku tidak mau patah semangat, bagiku seribu jalan menuju Jepang, seribu jalan menuju mimpi ku di Jepang… Ganbatte aja pikirku !” Justru berbeda itulah aku sangat ingin belajar lebih lanjut ke Jepang. Satu tahap penting telah aku lewati untuk mencari tiket lanjut S3 di luar negeri, dan aku akan kembali ke Jepang lagi. Untuk memastikannya, aku menelpon beliau dan mendengar langsung suara beliau yang terdengar sabar dan bijak serta benar-benar ‘’welcome’’ pada niat niatku, beliau mengatakan asal aku bisa benar-benar sampai di Jepang, dia yang akan menanggung dan mengatur semua kebutuhan sekolah Doktoralku dan hidupku selama menjadi student beliau. Alhamdulillah…Tuhan benar memberiku jalan. Sekarang, ‘’masalah baru’’ menghadang, sebagai PNS, aku tidak bisa begitu saja berangkat. Perlu berbagai proses agar aku dibolehkan mengikuti tawaran emas ini dan statusku sebagai PNS tetap terjaga selama aku belajar 3 tahun nanti. Bagaimanapun, aku masih akan meninggalkan istri dan keempat anak-anak kami di Indonesia paling tidak 6 bulan pertama, dan mereka butuh nafkah lahir dari ‘’sisa’’ gaji perbulanku. Akhirnya, aku memberanikan diri meminta Profesorku mengirim surat kepada Bapak Gubernur Jawa Timur (melalui Bapak Sekretaris Daerah). Dan Proffesorku ini memang benar-benar serius menerimaku, terbukti beliau benar-benar mengirim surat resmi permohonan tawaran mengikuti pendidikan S3 sebagai mahasiswa beliau ke Bapak Gubernur Jawa Timur melalui Bapak Sekretaris Daerah dan singkat cerita, Allahu Akbar, Alhamdulillah, Bapak Sekretaris Daerah berkenan menyetujui tawaran Profesorku tersebut dan aku diijinkan untuk mengikuti seleksi dan sekolah S3 di Graduate School of Science and Engineering, Yamaguchi University Japan.
    Setelah proses administrasi yang amat dimudahkanNya, karena orang-orang yang aku temui dan aku minta tolong terkait prosesku, semuanya welcome dan membantuku amat cepat dan penuh kesan persahabatan sebagai sesama aparat Pemprov. Jawa Timur, termasuk teman-teman di Kemendagri, Kemensetneg dan Kemenlu di Jakarta, surat Tugas Belajarku untuk 3 tahun samai 2018 selesai tak lama menjelang keerangkatan. Terima kasih banyak atas perkenan bantuan’’Antum’’ semua. Tuhan pasti akan membalas kebaikan bantuan proses yang telah ‘’Antum’’ berikan. Karena terlena dengan kesibukan administrasi, aku kurang fokus pada masalah transportasiku ke Jepang, tak terkira ternyata harga tiket sudah amat tinggi dari sebulan sebelumnya, akhirnya aku memutuskan membeli dulu tiket penerbangan dengan uang hasil menjual sepeda motor Honda Revo kesayangan kami. Aku menghibur istri dan anak-anak, bahwa nanti uangnya akan diganti Profesor setibaku di Jepang. Akhirnya tepat 28 September 2015 pukul 23.50 Japan Local Time, dihiasi cahaya terang bulan purnama, aku benar-benar tiba di Kansai International Airport di Osaka. Setelah menjadi ‘’gelandangan intelek’’ karena menginap semalam di Lantai 2 airport tersebut, pada 29 September 2015 sebelum Dhuhur, aku benar-benar tiba di Kampus kebanggaanku. Yamaguchi University, Japan!!!!. Profesorku benar-benar memegang janjinya, dikesempatan pertama bertemu beliau, yang dia berikan ketanganku adalah selembar surat pemberitahuan dari JASSO (The Japan Student Services Organization) bahwa aku menerima beasiswa ‘’Honor Monbukagakusho’’ sebesar JPY 48.000 perbulan dari Oktober 2015-Maret 2016. Alhamdulillah, karena aku tidak pernah merasa mendaftar, tapi bisa mendapatkan beasiswa itu, maka surat itu benar-benar membuat kejutan di awal pertemuan dengan beliau, dan beliau menjelaskan untuk tidak perlu kuatir akan biaya pendidikan dan biaya hidupku disini, karena beliau telah menyiapkan pembiayaanku melalui beberapa jalur, yaitu aku mendapat kesempatan ‘’ Teaching Assistanceship’’ sebesar JPY 1.379 perjam dari Kampus sebagai asisten beliau mengajar, juga aku direkomendasikan beliau untuk ikut seleksi beasiswa fakultas, beasiswa Rotary dan beasiswa local lainnya serta perkenan ijin beliau untuk aku melakukan ‘’Arubaito/Partime Job’’ kerja paruh waktu di luar jam kuliah. Dan keberuntungan lagi-lagi selalu diberikan Allah SWT, aku dimudahanNya bekerja di sebuah pabrik pengolahan/pengemasan sayur dan di café kampus sebagai tenaga cuci piring dan alat makan/minum. Alhamdulillah. Insya Allah, hasil dari bekerja paruh waktu itu cukup banyak membantuku untuk biaya hidup disini serta memberi nafkah istri dan keempat anak yang paling tidak dalam enam bulan kedepan masih aku tinggal di Indonesia, serta juga untuk persiapan liburan dan menjemput mereka ke Indonesia tahun depan, hehehe. Oh ya, di Kota Ube, Prefekture Yamaguchi sini, Alhamdulilah, Professorku telah menyediakan tempat berteduh yang amat nyaman di ‘’Kokusai Kouryou Kaikan’’ ( Ube International House) di single room bertarif JPY 11.200 perbulan belum termasuk iuran sampah, air, gas dan listrik. Aku amat bersyukur dengan keseharian di kota ini. Kota Ube tempat saya tinggal ini, tergolong kota kecil nan bersahaja. Kualitas hidup yang tinggi tercermin di kehidupan sehari-hari, seperti fasilitas transportasi sampai sanitasi yang lengkap dan terjaga kebersihannya, serta suasana alam yang indah, bersih, tertib, disiplin dan udara bebas polusi. Kontur tanahnya yang naik turun bergunung-gunung, membuat nyaman dan bagus buat kesehatan tubuh karena dalam keseharianku, aku menggunakan sepeda dan jalan kaki. Alhamdulillah, aku benar-benar sekolah S3 di Jepang sekarang. Bergabung dengan ribuan mahasiswa Asing di Jepang. Jangan takut berangkat walau berstatus ‘’self funded student’’ Asal ada jaminan tertulis dan meyakinkan dari Profesor yang mengundang kita, pasti akan banyak jalan yang diberikan untuk mewujudkan mimpi dan asa kita’’.
    Akhirnya aku bisa benar-benar ‘’Seorang PNS yang hanya modal tekad, otak, optimis dan doa yang akhirnya benar bisa sekolah S2 dan S3 secara gratis di negara Matahari Terbit”. Memang, jangan malu dengan mimpimu, jika ada kemauan dan usaha dibarengi doa restu orang tua dan teman-teman kerabat….BANYAK JALAN MENUJU JEPANG !!!!!!. *) Penulis adalah Kasubid Sistem Informasi pada Badan Penanaman Modal (BPM) Provinsi Jawa Timur; Dosen INI DALWA; Mahasiswa Tugas Belajar Doktoral pada Graduate School of Science and Engineering – Yamaguchi University,Japan (2015-2018); Alumni Master Student Program pada Graduate School of Science and Engineering – Saga University Japan (2004-2006)

    Rabu, 19 November 2014

    BEM INI DALWA

    Dahaga Itu Berakhir Juga


    Institut Darullughah Wadda’wah telah lama vakum dari kegiatan perlombaan maupun aktivitas kemahasiswaan luar kampus lainnya, mungkin ada banyak faktor yang membuat para mahasiswa dimasa lalu terhalangi pergerakannya di bidang-bidang tersebut. Seingat kami,prestasi terakhir yang diraih oleh INI DALWA adalah Juara 1 Nasional Pidato Bahasa Arab di Universitas Indonesia, tapi itu pun sudah berlalu 3 – 4 tahun yang lalu, dan juga di bidang pergerakan setahu kami dari informasi para Dosen bahwa INI DALWA pernah sangat diperhitungkan suaranya di kampus – kampus yang ada di Pasuruan dan sekitarnya sekitar tahun 1998 - 2004, tapi semenjak itu INI DALWA seperti kehilangan taringnya.
                Semenjak dilantik, kami BEM INI DALWA 2014 merasa ingin menumbuhkan lagi citra INI DALWA di bidang pergerakan dan perlombaan, tapi apa daya undangan – undangan dari kampus lain tak pernah sampai di tempat kami. Akhirnya tirai penutup itu seakan mulai terbuka saat kami menerima undangan dari UNIDA Gontor tentang lomba “Festival Dunia Arab” yang akan diselenggarakan padsa 26 – 29 September, dalam waktu tersisa sekitar 1,5 bulan kedepan kita bertekad akan menjadikan festival ini sebagai batu loncatan prestasi INI DALWA yang dimotori oleh BEM INI DALWA.
                Sejak itu hari – hari kami diisi dengan persiapan menuju Festival tersebut, baik persiapan dalam aspek materil maupun administratif, walaupun masih buta dengan semua konsep lomba yang ada dan seakan hanya bermodal semangat, tapi kami percaya terhadap apa yg Rasul ajarkan tentang konsep “Al-Ajr biqoril ta’ab (Hasil bergantung pada capeknya)”
                Hari yang ditunggu – tunggu pun tiba, akhirnya tim lomba yang berjumlah 17 orang dan disertai 3 ofisial berangkat bersama menuju Ponorogo, sebelum berangkat tak lupa kami berziarah dahulu ke maqbarah Abuya Hasan Baharun untuk meminta restu dan izin beliau, serta diiringi doa agar kami bisa melakukan yang terbaik disana.
                Lomba demi lomba pun kita ikuti dengan rasa yang bercampur aduk, ada tegang, bingung, sedih, dan senang seakan menjadi satu. Setelah satu per satu lomba kita lewati, baik itu kaligrafi, puisi, membaca berita, tebak gambar, menulis esai, rangking satu, mr.language dan pidato dengan baik, rasa optimistis pun mulai menyelimuti kami. Ditambah lagi ketika tim Debat INI DALWA bisa mendominasi di Babak Final, sembari mulut yang terus bershalawat kami berharap saat pengumuman esok hari kami bisa memberikan yang terbaik bagi kampus INI DALWA dan PP. Darullughah Wadda’wah.
                Tepat di pagi hari senin yang indah, kami meulai hari dengan Salat Dluha dan doa bersama dengan harapan semoga pengumuman nanti bisa memberikan kesan manis. Akhirnya detik – detik mendebarkan itu tiba, diiringi lafadz Alhamdulillah dan berjuta syukur kami berhasil membawa pulang 9 piala sekaligus, yang perinciannya Juara 1 dan 2 Kaligrafi, juara 1 Menulis Esai, Juara 2 Pidato, Juara 1 Tebak Gambar, Juara 1 Debat, Juara  1 dan 2 Rangking Satu serta satu piala Juara Umum, Akhirnya Dahaga itu berakhir juga.


    Kamis, 06 November 2014

    BEM INI DALWA

    Kalau Bukan Kita Siapa Lagi ?



    Kalau Bukan Kita Siapa Lagi ?

    Indonesia,  ketika kita mendengar kalimat itu di masa lalu pasti kita terngiang dengan harapan-harapan kejayaan. Tapi ketika kita mendengar kalimat tersebut di masa sekarang, maka kita akan mendengar nada pesimis nan penuh irama negatif yang membuat kita semakin tidak merasa cinta kepada negara ini.
    `           Seiring bergulirnya waktu, kemunduran kita semakin diperparah dengan terpecah-belahnya rakyat di negara kita karena andil dari aliran-aliran sesat yang semakin menjamur di NKRI tercinta ini, yang mana aliran tersebut pasti mendoktrinkan fanatisme yang membuat mereka punya prinsip bahwa golongan dia adalah satu-satunya golongan yang benar, sedangkan golongan-golongan yang lain adalah golongan yang salah dan tersesat. Dengan itu semua maka dapat dipastikan bahwa Kejayaan Indonesia hanyalah sebuah mimpi dan angan yang tak akan mungkin bisa dicapai.
                Berbagai upaya sebenarnya telah diupayakan oleh pemerintah demi kemajuan Indonesia, mulai dari segi pendidikan lewat kurikulum 2013 yang mengutamakan segi akhlak sebagai penilaian utama, dari segi budaya dengan diperkenalkannya lagi budaya ketimuran sebagai budaya asli Indonesia dan banyak lagi demi  terwujudnya kemajuan Indonesia. Tapi amat disayangkan bahwa upaya-upaya tersebut seakan nihil karena telah kuatnya cakar-cakar Negara  Barat yang mencengkram kita dengan paham liberalis, sekurelitas dan mengutakan nafsu belaka.
                Dari semua  itu, sebenarnya ada satu jalan yang penuh dengan lampu terang keberhasilan, yaitu dengan membuat negara ini berada dibawah kendali Santri, yang pastinya kalau Santri yang memegang NKRI, maka dapat dipastikan bahwa akhlak akan jadi dasar utama NKRI, dan ketika akhlak telah jadi dasar pondasi sudah dapat dipastikan bahwa kejayaan Indonesia hanya tinggal menunggu waktu saja.
                Kalau kita ingin berkaca dari sejarah di masa lalu, maka sebenarnya Indonesia ini bisa merdeka adalah karena berkat andil besar Santri, tapi sayangnya sejarah itu telah disamarkan oleh musuh-musuh Islam sehingga banyak dari kita yang tidak tahu masalah tersebut, yang efeknya membuat kita minder dan merasa tidak mempunya kemampuan untuk merubah Indonesia, padahal sebenarnya Indonesia ini bisa maju jika Santri punya pikiran untuk maju, Indonesia pasti bisa bangkit klo Santri mau berjuang dan kalau bukan kita siapa lagi ?
    Bangil,2 Oktober 2010
    Dibuat di tempat para calon perubah sejarah, Kantor BEM INI DALWA